Nasional

Mantap, Kapolri Tito Karnavian Paparkan Strategi Penanggulangan Terorisme di Jordan

JORDAN – Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian diminta menyampaikan strategi pemberantasan terorisme di forum Middle East Special Operations Commanders Conference (MESOC) 2018 yang digelar di Four Seasons Hotel Amman, Jordan Senin (7/5). Forum tersebut merupakan pertemuan para pimpinan operasi khusus seluruh dunia yang membahas tentang sistem keamanan dunia.

Kehadiran Tito sekaligus memenuhi undangan khusus dari Raja Arab King Abdullah II yang merupakan pendiri konferensi tersebut.

“Saya menyampaikan sejumlah paparan terkait strategi penanggulangan terorisme,” kata Kapolri, Selasa, (8/5) dihadapan peserta konferensi yang dibuka oleh HRH Pangeran Faisal bin Husein mewakili King Abdullah II.

Dalam penanganan terorisme maupun radikalisme Kapolri menggunakan Law Enforcement Strategy on Countering Terrorisme. Hard Approach yakni penggunaan kekuatan militer sebagai back-up kepolisian.

Kapolri menambahkan berikutnya ada upaya intelijen dan menggunakan institusi penegak hukum dan metode soft approach. Caranya dengab strategi perbaikan ekonomi, counter ideologi, program deradikalisasi dan sosial kultur.

“Upaya counter teroris sama dengan counter insurjensi. Adapun strategi terbaik adalah strategi yang paling cocok diterapkan di setiap arena,” ujar Kapolri.

Tito juga menjelaskan kondisi arena teroris di indonesia. Ia mengungkapkan organisasi teroris saat ini terbagi dua, yaitu Jamaah Islamiyah afilisiasi terhadap Al Qaedah dan jamaah Ansharoh Tauhid yang berafisiliasi dengan ISIS.

“Indonesia terdapat 2.000 militan teroris eks pemberontak bersenjata yang merupakan alumni Afghanistan dan Philipina Selatan. Medan di Indonesia terdiri dari perkotaan, pedesaan, pegunungan dan hutan serta sungai sehingga tidak perlu adanya kemampuan di semua matra tersebut,” ungkapnya.

Kapabilitas yang diperlukan untuk memberantas teror adalah deteksi yang sangat kuat. Investigasi secara ilmiah, pasukan penindak dan hukum yang kuat, Kapolri menambahkan.

Indonesia merupakan satu-satunya negara di dunia yang memberantas teroris melalui proses persidangan dengan hasil selama 2002-2018, lanjut dia, pelaku yang ditangkap 1.441 orang dan 1.035 yang dihukum dan empat hukuman mati.

“Dengan melakukan proses melalui jalur hukum inilah maka dapat dikatakan bahwa teroris merupakan suatu kejahatan kriminal,” pungkas Kapolri.

Tito juga disambut secara spesial oleh para pejabat Jordania. Dalam kesempatan itu Tito terlihat berbincang hangat dengan Menteri Pertahanan dan Menteri Dalam Negeri Jordania H.E. Mr Samir Ibrahim Mohammad Mbaidin.

Tito Karnavian dinilai punya peran besar dalam melakukan memberantas radikalisme dan terorisme di Indonesia. Sebelum ditunjuk Presiden Jokowi menjadi Kapolri, Tito pernah menjadi Kepala Densus 88 Anti Teror dan Kepala BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme).

Oleh karena, Tito dinilai tahu betul bagaimana melakukan pencegahan radikalisme maupun terorisme. Dalam beberapa kasus terorisme pun berhasil dituntaskan oleh Jenderal yang pernah menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya itu. (ms/red)

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close