Nasional

Kala Mahasiswa Flinders Mengenal Kantor Staf Presiden

JAKARTA – Ada suasana berbeda pada Rabu, 31 Januari 2018 saat 24 mahasiswa Ilmu Hukum dari Flinders University, Adelaide, Australia memenuhi ruang rapat utama Kantor Staf Presiden. Bersama dua staf pengajar, mereka berkunjung ke lembaga kepresidenan sebagai bagian dari studi tur ke Indonesia.

“Kami ingin agar para mahasiswa dari berbagai negara yang tengah menempuh pendidikan di Flinders dapat belajar banyak hal terkait hukum, pemerintahan, hukbungan internasional, budaya, dan bahasa Indonesia. Tentunya juga sekaligus memperdalam hubungan antara Indonesia dan Australia di berbagai lini,” kata Senior Lecturer International Relations Flinders University Priyambudi Sulistiyanto. Flinders University memiliki hubungan kemitraan dengan Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Hasanuddin.

“Selain ke Kantor Staf Presiden, para mahasiswa ini juga berkunjung ke Kementerian Luar Negeri, Kementerian Perindustrian, serta menuju Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta, pekan depan,” kata Priyambodo juga menjabat Academic Director ‘Jembatan’ Flinders University, sebuah
program untuk memperkuat interaksi antara masyarakat Australia dan Indonesia lewat pemahaman bahasa dan budaya Indonesia yang lebih baik, di antaranya melalui kunjungan ke kedua negara.

Para mahasiswa Flinders diterima Deputi IV Kepala Staf Kepresidenan bidang Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi Eko Sulistyo bersama Tenaga Ahli Utama Binny Buchory dan Wandy Tuturoong.

Dalam kesempatan itu, Eko Sulistyo menjelaskan, Kantor Staf Presiden merupakan sebuah institusi yang dibentuk Presiden Jokowi untuk mendukung kebijakan presiden dalam menjalankan pemerintahan.

Eko memaparkan, KSP memiliki tugas untuk melakukan monitoring dan melakukan bottlenecking terhadap program-program prioritas presiden. “Rekomendasi-rekomendasi dari KSP akan menjadi bahan pertimbangan untuk ditindaklanjuti dan diupayakan penyelesaiannya oleh presiden, misalnya melalui rapat terbatas,” ungkapnya

Karakteristik Jokowi

Terkait karakteristik kepemimpinan Indonesia dewasa ini, Eko Sulistyo menjelaskan, bertindak cepat menjadi karakter khas dari Presiden Jokowi. Inilah yang membedakan era pemerintahan Jokowi dari periode-periode lalu.

“Dalam seminggu, presiden bisa mengikuti empat kali rapat terbatas dengan isu dan kebijakan yang berbeda. Belum lagi kunjungan ke lapangan, atau sering dikenal dengan blusukan, untuk memonitor program prioritasnya,” sambungnya.

Salah satu contohnya, Presiden Jokowi mengunjungi lima negara beberapa waktu lalu dalam waktu yang singkat. “Beliau berani menembus salju, bahkan melewati bom di Afghanistan.

Sementara itu Binny Buchori menegaskan, bahwa Indonesia memiliki hubungan bilateral yang baik dengan Australia, terutama di bidang pendidikan vokasi.

“Indonesia, yang merupakan bagian dari ASEAN, juga bekerjasama dengan Australia dalam rangka memerangi kejahatan terorisme dan radikalisme dan mempertahankan kedamaian,” ungkapnya.

fli5

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close